CERPEN RAMADHAN BAGIAN 6

Cahaya di Malam Ramadhan

Cahaya di Malam Ramadhan
Ilustrasi AI

Namanya Fulan. Usianya sudah lewat kepala tiga, namun hidupnya berjalan tanpa arah yang jelas. Salat sering ia tinggalkan, doa terasa asing di bibirnya, dan masjid baginya hanyalah bangunan yang ia lewati tanpa rasa. Hari-harinya habis untuk urusan dunia, mengejar kesenangan yang tak pernah benar-benar memberi ketenangan.

Berbeda dengan ibunya.

Ibunya adalah perempuan sederhana dengan wajah yang selalu tenang. Setiap subuh, Fulan terbiasa mendengar langkah pelan menuju tempat wudu dan suara doa yang lirih namun panjang. Tak pernah sekalipun sang ibu memarahi Fulan karena kelalaiannya beribadah. Ia memilih cara lain: doa yang tak putus, nasihat yang lembut, dan keteladanan yang konsisten.

“Lan,” kata ibunya suatu sore menjelang Ramadhan, “Ibu nggak minta kamu jadi orang hebat. Ibu cuma ingin kamu dekat dengan Allah. Karena kalau Allah sudah dekat, hidup kamu pasti dijaga.”

Fulan hanya mengangguk. Seperti biasa, kalimat itu masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Ramadhan pun datang.

Hari-hari awal puasa dijalani Fulan dengan setengah hati. Ia berpuasa karena kebiasaan, bukan kesadaran. Namun ada satu hal yang berbeda: ibunya semakin rajin bangun malam. Hampir setiap sepertiga malam, Fulan terbangun oleh suara isak pelan dari kamar sebelah. Ibunya salat tahajud, lalu berdoa lama sekali—dan Fulan tahu, salah satu nama yang selalu disebut adalah namanya.

Suatu malam di pertengahan Ramadhan, Fulan terbangun dan tak bisa tidur lagi. Hatinya gelisah tanpa sebab yang jelas. Ia duduk di ruang tengah, mendengar suara doa ibunya yang bergetar.

“Ya Allah,” suara itu lirih tapi penuh harap, “jika anakku terlalu jauh, dekatkanlah. Jika hatinya tertutup, bukakanlah. Jangan Kau ambil aku sebelum Kau tunjukkan jalan-Mu di hatinya.”

Kalimat itu menghantam dada Fulan.

Entah kenapa, air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat kecil. Ia merasa telah hidup terlalu egois, terlalu lama mengabaikan cinta yang paling tulus—cinta seorang ibu yang tak pernah lelah mengharap hidayah untuk anaknya.

Malam itu, Fulan melangkah ke kamar mandi. Tangannya gemetar saat berwudu. Ia berdiri di sajadah yang sudah lama tak ia sentuh. Salatnya kaku, bacaannya terbata, tapi dadanya terasa hangat. Saat sujud, ia menangis tanpa bisa menahan.

“Ya Allah… kalau masih ada pintu untukku, aku ingin pulang.”

Sejak malam itu, Ramadhan Fulan berubah.

Ia mulai salat tepat waktu. Ia ikut ibunya ke masjid untuk tarawih. Ia belajar membaca Al-Qur’an lagi, perlahan, seperti anak kecil yang baru mengenal huruf. Setiap kali ia lelah, ia teringat wajah ibunya yang tak pernah lelah berdoa.

Di penghujung Ramadhan, Fulan mencium tangan ibunya lebih lama dari biasanya.

“Bu,” katanya dengan suara serak, “terima kasih sudah nggak pernah menyerah sama aku.”

Ibunya tersenyum, air mata jatuh di pipinya.
“Ibu cuma mengetuk pintu, Nak,” katanya lembut. “Yang membukakan tetap Allah.”

Dan sejak Ramadhan itu, Fulan tahu: hidayah memang milik Allah, tetapi doa seorang ibu adalah cahaya yang tak pernah padam, bahkan ketika anaknya tersesat paling jauh.

#Ramadhan

Index

Berita Lainnya

Index