CERPEN RAMADHAN

Senja yang Tak Pernah Sama

Senja yang Tak Pernah Sama

Adzan Magrib selalu terdengar lebih lirih sejak Ibu pergi.

Fulan duduk di lantai dapur yang dingin, menatap segelas air putih dan sepiring nasi sederhana. Tidak ada kolak pisang, tidak ada gorengan hangat, dan tidak ada suara Ibu yang biasanya berkata, “Sabar ya, Nak, sebentar lagi buka.”

Puasa hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena lapar, tapi karena rindu.

Dulu, Fulan sering mengeluh. Tentang bangun sahur yang terlalu pagi, tentang rasa haus di siang hari, tentang menu berbuka yang itu-itu saja. Ibu hanya tersenyum, lalu tetap menyiapkan semuanya dengan penuh cinta. Kini, senyuman itu hanya tersisa dalam ingatan.

Jarum jam merayap pelan. Detik demi detik terasa seperti menguji kesabarannya. Saat adzan akhirnya berkumandang, Fulan meneguk air putih itu perlahan. Tenggorokannya basah, tapi dadanya tetap kering. Ada sesuatu yang hilang dan tak bisa digantikan oleh apa pun.

Ia teringat pesan Ibu di Ramadan terakhir mereka bersama,
“Puasa itu bukan cuma menahan lapar, Nak. Tapi juga belajar kehilangan… dan tetap ikhlas.”

Air mata Fulan jatuh tepat saat suapan pertama masuk ke mulutnya.

Di luar, langit senja berwarna jingga. Indah, tapi sunyi. Seperti hatinya yang kini belajar berpuasa bukan hanya dari makan dan minum, tapi dari kehadiran orang yang paling ia cintai.

Dan malam itu, Fulan menyadari beberapa puasa memang tidak pernah terasa sama lagi.

#Nasional

Index

Berita Lainnya

Index