CERPEN RAMADHAN BAGIAN 3

Tangis di Sepertiga Malam

Tangis di Sepertiga Malam
Iliustrai AI

Azan Subuh hampir berkumandang ketika Fulan masih terduduk di sajadah lusuh di sudut rumahnya. Lampu redup, udara dingin, dan tangannya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena doa yang sejak tadi tak berhenti mengalir bersama air mata.

Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Ibunya telah tiada. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya sahur, tak ada doa panjang selepas salat, tak ada senyum yang selalu berkata, “Nak, Ramadhan itu bukan soal lapar, tapi soal kembali.”

Fulan menunduk. Dadanya sesak oleh penyesalan.

Dulu, ia sering menunda salat. Sering mengeluh saat ibunya mengingatkan. Bahkan pernah meninggikan suara hanya karena hal sepele. Dan kini, orang yang paling sabar menunggunya berubah telah dipanggil lebih dulu oleh Allah.

Di suatu malam Ramadhan, Fulan terbangun sendiri. Entah mengapa, hatinya tergerak kuat untuk salat tahajud. Ia berwudhu dengan air mata yang jatuh bercampur air keran. Setiap basuhan terasa seperti membersihkan dosa-dosa lama.

Saat sujud terakhir, ia tak lagi mampu merangkai kata indah. Hanya satu kalimat yang berulang keluar dari bibirnya:

“Ya Allah… aku terlambat berubah. Tapi jangan Kau tutup pintu-Mu.”

Tangisnya pecah.

Dalam keheningan itu, Fulan teringat pesan ibunya:

“Kalau kamu merasa jauh dari Allah, ingat… Allah tak pernah menjauh. Kitalah yang melangkah pergi.”

Kalimat itu menghantam hatinya.

Sejak malam itu, Fulan tak lagi menunda. Ia menjaga salat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan setiap berbuka, ia menyisihkan sedikit makanan untuk tetangga yang membutuhkan, seperti yang dulu sering dilakukan ibunya.

Pada suatu hari, Fulan berdiri sendiri di depan makam ibunya. Ia mengangkat tangan, tersenyum di balik mata yang basah.

“Ibu… doakan Fulan. Ramadhan ini mengajarkan aku kehilangan… agar aku belajar kembali kepada Allah.”

Angin malam berhembus pelan. Hatinya terasa ringan.

Ia tahu, Allah Maha Pengampun. Dan Ramadhan selalu datang bukan untuk menghakimi masa lalu, tetapi untuk memeluk hamba-Nya yang ingin pulang.

 

#Nasional

Index

Berita Lainnya

Index