CERPEN RAMADHAN

Malam Menjelang Puasa

Malam Menjelang Puasa
Ilustrasi

Langit masih abu-abu ketika kabar itu akhirnya datang: besok puasa dimulai.

Ibu mematikan radio tepat setelah suara pengumuman isbat menghilang. Ruang tamu kembali sunyi, hanya menyisakan detak jam dinding yang terdengar lebih jelas dari biasanya. Tidak ada sorak atau perayaan berlebihan—hanya senyum kecil yang tumbuh perlahan, seolah setiap orang di rumah itu sedang merapikan niatnya masing-masing.

Raka berdiri di dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat mushala di ujung jalan. Lampunya menyala lebih terang malam ini. Beberapa anak berlarian sambil tertawa, memukul bedug kecil dengan semangat yang belum mengenal lelah. Raka tersenyum tipis. Ia ingat masa-masa itu—saat Ramadhan hanya tentang bangun sahur dan menunggu adzan Maghrib dengan riang.

Sekarang rasanya berbeda.

Ibu mengambil toples kecil dari lemari, mengisinya dengan kurma satu per satu. Gerakannya pelan dan rapi, seperti sedang menghitung sesuatu yang tak kasatmata. Ayah duduk di kursi kayu, menuliskan jadwal imsak di kalender yang sudah mulai pudar warnanya.

“Ramadhan itu bukan soal kuat menahan lapar,” kata ayah tiba-tiba, tanpa menoleh.
“Lalu soal apa?” tanya Raka.
“Soal mau berubah atau tidak.”

Kata-kata itu menempel di kepala Raka.

Malam semakin larut. Setelah salat Isya, Raka merebahkan diri di kasur. Matanya terpejam, tapi pikirannya justru terjaga. Ia mengingat setahun terakhir—janji-janji yang diucapkan selepas doa, tapi pelan-pelan dilupakan. Ia ingat amarah yang mudah muncul, salat yang kadang ditunda, dan doa-doa yang hanya diucap ketika butuh.

Ada rasa malu. Tapi juga harap.

“Ramadhan datang lagi,” gumamnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Datang bukan untuk menghakimi, melainkan memberi kesempatan kedua—atau mungkin yang kesekian.

Alarm sahur berbunyi sebelum mimpi benar-benar datang. Ibu mengetuk pintu kamar dengan lembut. Di meja makan, nasi hangat dan telur dadar sederhana sudah tersaji. Ayah membaca doa, dan Raka mengikutinya dengan suara lirih.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, Raka sadar: yang berubah bukan makanannya, tapi perasaannya.

Ketika fajar mulai menyingsing, Raka berdiri di teras. Udara pagi Ramadhan terasa bersih, seperti baru saja diciptakan ulang. Ia menarik napas panjang.

Hari pertama puasa selalu berat. Tapi justru di sanalah letak maknanya.

Dan begitulah awal Ramadhan:
datang dengan tenang, mengetuk hati yang lelah, lalu mengajak manusia memulai kembali—dari niat yang sederhana, tapi sungguh-sungguh.

 

#Nasional

Index

Berita Lainnya

Index