CERPEN RAMADHAN BAGIAN 5

Lampu di Ujung Sahur

Lampu di Ujung Sahur
Ilustrasi AI

Azan Subuh hampir berkumandang ketika lampu dapur kecil itu masih menyala. Fulan duduk sendiri di depan sepiring nasi yang sudah dingin. Sendoknya tergeletak begitu saja, seolah kehilangan alasan untuk digerakkan.

Ini Ramadhan kelima tanpa ayah.

Dulu, ayahlah yang selalu membangunkan Fulan untuk sahur. Ketukan pelan di pintu, disusul suara lembut yang tak pernah berubah, “Bangun, Nak. Ramadhan itu singkat.”
Kini, tak ada lagi ketukan. Yang ada hanya sunyi dan rasa kehilangan yang tak kunjung selesai.

Fulan tetap berpuasa. Tetap salat. Tapi hatinya terasa kosong. Ia menjalani Ramadhan seperti rutinitas—tanpa harap, tanpa getar. Setiap doa terasa berhenti di langit-langit kamar.

Suatu sore, di tengah rasa sesak yang tak ia mengerti, Fulan membuka kembali kamar ayah. Debu tipis menempel di lemari tua. Di sana, ia menemukan sebuah buku kecil—catatan ayah yang sudah menguning.

Tangannya gemetar saat membaca halaman terakhir:

“Jika suatu hari ayah tak lagi menemanimu di Ramadhan, jangan kau tinggalkan Allah. Kehilangan manusia adalah cara-Nya mengajarkan bahwa hanya Dia yang benar-benar abadi.”

Air mata Fulan jatuh tanpa suara. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan: ia marah pada takdir, dan tanpa sadar menjauh dari Tuhan.

Malam itu, Fulan melangkah ke sajadah dengan hati yang retak. Dalam sujudnya, ia menangis lama—bukan hanya karena ayah, tapi karena dirinya sendiri. Ia memohon ampun atas iman yang sempat rapuh, atas doa-doa yang ia ucapkan tanpa rasa.

Di sepertiga malam, Fulan terbangun untuk sahur. Dapur itu tetap sepi. Namun kali ini, ia menyalakan lampu dengan niat yang berbeda.

“Ayah,” bisiknya lirih, “aku belum sekuat itu… tapi aku sedang berusaha.”

Ketika azan Subuh berkumandang, Fulan menengadah. Duka masih tinggal, kehilangan masih nyata. Namun hatinya terasa lebih ringan. Ia tahu kini: Ramadhan bukan tentang siapa yang telah pergi, melainkan tentang siapa yang selalu setia menunggu hamba-Nya kembali.

Lampu dapur itu terus menyala. Menjadi saksi bahwa dari luka yang dalam, iman bisa tumbuh kembali—perlahan, namun tulus.

#Ramadhan

Index

Berita Lainnya

Index